Mempersatukan Kepulauan Indonesia dengan beratus etnisnya bukanlah pekerjaan mudah. Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar untuk berbagai suku dan dengan negeri-negeri lain turut berperan besar dalam mempersatukan Indonesia. Kemudian agama Islam yang menyebar dari Barat ke Timur membantu mempersatukan beribu-ribu pulau. Akhirnya penjajahan Belanda membangkitkan solidaritas historis dan memberi pengalaman politik yang sama antara berbagai suku bangsa. Sebetulnya kira-kira sepuluh ribu tahun silam, kebudayan lokal yang dibangun serta yang datang dari Asia Timur dan Selatan telah membentuk kesamaan di beribu pulau kita.
Lumrah bahwa dalam kesamaan, selalu ada perbedaan; di alam ini semuanya bervariasi. Kepulauan Nusantara kita - meskipun serumpun untuk sebagian besarnya - terdapat pula dialek-dialek, bahkan bahasa-bahasa yang berbeda. Secara biologis pun, terdapat perbedaan pada peringkat rendah sampai ke rasial. Kebudayaan dan agama primer beraneka ragam pula. Akhirnya, lingkungan pun tidak sama, baik secara horisontal maupun vertikal. Hewan dan tetumbuhan berubah sedikit demi sedikit dari barat ke timur, baik makhluk air maupun darat. Penjajahan Belanda juga tidak merata lamanya (340-40 tahun), maupun intensitasnya. Jawa paling awal dan intensif dieksploitasi, sedangkan Irian paling belakang dan paling sedikit. Kedudukan pemerintah sentral di Jawa, di Batavia (Jakarta) dan Buitenzorg (Bogor), sedangkan pulau-pulau lain disebut Buitengewesten (Tanah Seberang) dan kurang dibangun.
Bagaimana kita mempersatukan mozaik yang demikian beraneka, sehingga menjadi selimut dan tabir dinding yang utuh dari percaperca? Jepang menolong kita sedikit dengan meresmikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Tetapi ia memecah Indonesia Barat dan Timur yang dikelola oleh angkatan perang yang berlainan, dan ini membuat masing-masing pulau mandiri dan autarkis, seperti: Sumatra Baru, Jawa Baru dan lain-lain. Belanda yang kembali sesudah Perang Dunia II ingin membuat federasi negara-negara bagian.
Bung Karno dan para pemimpin nasional seangkatannya berjasa besar dalam membina Indonesia sebagai satu bangsa. Irian, sebagai Indonesia Irridenta, berhasil dipersatukan kembali, 13 tahun setelah penyerahan kedaulatan tahun 1949. Berbagai pemberontakan meletus di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Maluku, tetapi berhasil diredam. Dalam 20 tahun pertama Indonesia merdeka, kita masih bisa mempertahankan negara kesatuan.
Akan tetapi kemudian datanglah "zaman pembangunan" dengan hutang berlebihan. Orang bersafari keliling meneriakan berulang-ulang sampai yang mendengarnya bosan: akselerasi pembangunan, tinggal landas, nilai tambah, mengejar target Pelita, asas tunggal, peningkatan SDM, trickle-down effect (efek menetes ke bawah); berikut sekumpulan gado-gado istilah dari kapitalisme, Marxisme, eksterm kiri, eksterm kanan, eksterm tengah, hedonisme, ekonomisme, teknologisme, militarisme, dan otoritarianisme. Pemerintah dibuat monolitik, monosentral, dan usaha-usaha dikerahkan bukan untuk national glory, melainkan untuk family glory.
Timbullah tindakan-tindakan reaktif di periferi dan kaki piramida sosial. Daerah-daerah merasa diseparasikan dan diasingkan. lapisan bawah merasa dikorbankan. Solidaritas dan keadilan terinjak-injak. Rakyat kelaparan dalam lumbung, kehausan di tengah hujan lebat. Hak-hak minoritas terjepit dan elite minoritas berpesta di sekitarnya. Pendidikan hampir total terbengkalai dan moralitas mengalami dekadensi. Agamawan dan cendekiawan beramai-ramai meninggalkan tugas pokoknya dan larut dalam kenduri politik dan ekonomi.
Bangsa ini retak-retak di titik-titik lemah. Jahitan-jahitan persatuan koyak, tercabik dan compang camping. Kabinet tertimpa beban untuk menyatukannya kembali dan bedil terpaksa bicara. Kerusuhan dan kekerasan menyeruak di mana-mana, unjuk rasa lebih populer dibandingkan dengan unjuk akal. perbedaan agama, suku, tingkat ekonomi, ideologi dan mozaik budaya yang selama ini menjadi kebanggaan kini menjadi biang kekacauan, dipicu oleh kelompok-kelompok kepentingan yang mulai merasa kehilangan muka, kehilangan kedudukan, harta dan masa depan sesudah perubahan reformatoris 1998.
Apakah bangsa Indonesia sanggup mempertahankan kesatuannya?
Saya rasa dan yakin, masih sanggup! Yang perlu dikhawatirkan justru apakah para pemimpin kita sanggup bersatu?